Batu Badaong Bukan Hanya Carita Batu Badaong

Om Anki kaluar dari poporisa, la dia tangada ka atas pohong durian... burung kakatua putih diatas ada coba por mau makan durian, om angki mara dia tarus ambe sandjata cis, trus tu burung dia tembak. burung jato kanal om angki punya peluru senapan angin yang punya kaliber basar cukup par bunu pancuri, seng lama kakatua tu mati abis jato ka tana. om Angki merasa bardosa, mahluk indah nie kanapa beta seng kas tinggal akang hidup sa, la beso beta pasang dadeso par akang. bisa jual di pasar, deng akang pe harga jua bisa tutup durian satu jaga
yang kakatua makan di akang. ayo tuang kapanasang apa...!
cerita diatas walau hanya sepintas dan tanpa sebuah makna yang terperinci, tapi dapat di tarik sedikit faedah darinya, om Angki seperti halnya basudara di lei-Hitu kebanyakan tidak berpikir panjang dalam mengambil tindakan dalam sebuah keputusan, mungkin tidak jauh dengan analisis seorang ahli filosofi yang mengatakan nilai tatanan atau kultur dan karakteristik masyrakat dapat dilihat dari mitos yang berkembang di masyrakat itu sendiri. Cerita Batu Badaong untuk orang Ambon khususnya adalah sebuah mitos, seperti halnya Tangkuban Perahu untuk masyarakat Sunda, Ratu Pantai Selatan untuk masyrakat Jogjakarta dan sekitar pesisir pantai selatan jawa. mitos ini bukan hanya sebuah cerita turun temurun yang berkembang, tetapi inilah cerminan masyrakat itu.

Pela deng Gandong, Uli Persekutuan, kapata, dan lainnya adalah warisan yang dibuat para Tetua untuk menghargai apa yang mereka miliki dan pernah dimiliki, mengapai apa yang mereka citakan, dan semua yang bermuara pada utuhnya sebuah tatanan masyarakat nanti. tetapi lagi-lagi seperti cerita Batu Badaong, semua hilang karena keserakahan kita, semua hilang karena keputusan yang terlalu terburu-buru, dan akhirnya kita hanya menyalahkan orang yang sudah tiada, 'ini karena politik pecah belah Belanda... ini politik pengalihan isu Pemerintah Republik Indonesia' alasan-alasan ini kita adakan untuk pembenaran atas semua yang telah terjadi... seperti cerita Batu Badaong, kita orang Ambon kebanyakan selalu menyesali Keselahan dengan air mata yang tulus. tanpa berpikir panjang kita menyerang saudara sendiri, tanpa berpikir panjang atau 'lupa' kita melewatkan begitu saja janji dan sumpah yang telah ada, tanpa berpikir panjang kita tidak mengindahkan nasihat dari orang yang lebih tahu.

Batu Badaong....
batulah batangke...
buka mulutmu...
telangkan beta....
gunalah apa...
beta hidup sandiri...
sedangkan ibu...
sudah tiada...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar