Mukadimah

بسم الله الرحمن الرحيم Maha Suci Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa
Salam dan Saffat selalu untuk junjungan kami Uku Nabi Muhammad yang telah membawa bangsa kami dan pendahulunya dari zaman Jahilliah ke zaman terang benderang.. salam serta untuk keluarga dan para sahabatnya

Ibuku dari rahim rembulan dan harimau gurun...saat matahari meninggalkn lamunan dan berita kapal Peranggi dan
Wolanda karam di tanjung-tanjung tak bertuan darah ayahku pun mengalir bersama naluri pedagang , Bajak Laut, dan petani tembakau...walau tak sempat di berkati dengan dongeng malam dan syair-syair perang, aku di anugerahi tajam mata elang hitam dari timur, begitu kata angin...yang terbawa bersama takut dan dingin,kenangan dan harapan, malam dan gelap, obor dan riuh nelayan yang mengusir lapar atau sebaliknya.
Aku tak terlalu tua untuk ini, untuk memutihkan kertas cina yang telah menguning seperti warna langit saat surya tenggelam, dan menghitamkan tinta yang telah pudar termakan usia zaman karena alhamdullilah mata dan telingaku masih diberi rahmat kesehatan......hingga titik-titik darinya menemukan aku bersama bersaudara tiga orang dari pulau karang yang tenggelam... ada pun nama mereka Abdul Mutalib, Abdul Mannaf dan Abdullah (semogah Allah selalu merahmati mereka )... hingga pada tanggal yang tidak tersebut hiduplah bersama mereka tiga wanita tua perkasa, Boy Cek, Boy Ninang, Boy Renung nama mereka (semogah Allah selalu bersama mereka)... karena perkara yang tak bisa hamba ceritakan dan amarah seorang di antara wanita tua yang di anugerahi Allah kekuatan sakti maka di tenggelamkanlah pulau hunian itu dengan taupan dan ombak yang dasyat...syahdan, berembuklah mereka mencari tempat hunian baru...
lima tiga dayung sampailah mereka pada pulau kosong...Nusa Lau namanya. beristrahat dan bertawakallah tiga saudara itu hingga tiga hari dan tiga malam... kemudian bermufakatlah mereka untuk melanjutkan perjalanan, hatta sampailah mereka di tanah Ambon.kemudian bertemulah mereka dengan orang tua Umarella(safaat dan salam untuk nya) di pantai dan dinikahi dengan seorang putrinya salah seorang tiga saudara itu yaitu kakak tertua Abdul Mutalib . beristrahatlah mereka di gunung Salahutu selama tiga hari tiga malam, dan kemudian sang bungsu Abdullah memaksa untuk melanjutkan perjalanan sehingga kakak kedua Abdul Mannaf pun tak enak hati untuk membiarkan adiknya sendiri melanjutkan perjalanan... berangkatlah mereka berdua meninggalkan kakak tertua mereka hingga sampai pada sebuah pulau,Haruku namanya. sang adik Abdullah terpesona dengan keindahan pulau itu singgah dan menetaplah sang adik di pulau itu, Abdul Mannaf melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di Tanah Hitu, Sawa Tellu nama tempat singgahnya. bertemulah dia dengan penguasa setempat dia di beri makan dan minum serta diceritakanlah sebab ihwal kedatangannya, sang penguasa yang menerima dengan senang lalu memberinya tempat hunian, hingga sampailah padaku . begitu yang tersirat dalam lisan matahari yang tenggelam dan tak kembali (semoga Nur Allah selalu besamanya dimana pun beliau ada)... angin berhembus elang-elang hitam pergi dan datang... walau banyak yang tak kembali, kami memiliki banyak harapan buat mereka dan esok..dimana pun kalian berada--waulahualam bi sawab

1 komentar: